Monday, January 11, 2010

Pendidikan dalam dinamika Pembangunan

Secara umum pembangunan itu sendiri multifaced – terdapat banyak wajah dan dimensi (Pranoto,2007:10). Sehingga pembangunan bukan hanya berkaitan dengan pengembangan fisik atau saran dan prasarana, melainkan juga nonfisik, seperti mentalitas, pandangan kolektif masyarakat, dan seterusnya. Keadaan ini tidak mengenal besar atau kecil cakupan daerah, jauh maupun dekat, begitu pula dengan pembangunan di wilayah perdesaan. Pembangunan perdesaan seperti disampaikan Barbara Baird Israel (1974:14) is the resultant of many interacting forces. Education must be one of them – education taking many forms and touching many people. Pendidikan yang diperlukan bagi pembangunan tidak terkecuali bagi pelaksanaan di perdesaan adalah berorientasi pada ‘hard competence’ dan ‘soft competence’ (Cynthia, Gafur dan Dedi, 2008:12) berorientasi pada pengetahuan, ketrampilan dan keahlian, juga memperhatikan inisiatif, kreativitas dan inovasi.

Sementara itu pula teori pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam pembangunan (Tjokroamidjojo dan Mustopadidjaja,1984:44) memandang peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci kemajuan ekonomi dan kestabilan social yang memberikan implikasi peningkatan ’human capital stock” dengan mengambil prioritas kepada usaha meningkatkan mutu pendidikan, kesehatan dan gizi. Perbaikan mutu SDM akan menumbuhkan inisiatif-inisiatif dan sikap kewirausahaan yang turut menumbuhkan pula lapangan-lapangan kerja baru, dengan demikian produktivitas nasional akan meningkat. Lebih lanjut pandangan Tom Wylie (O’Hagan, 1999:181) having human capital is what makes the difference and the way to increase the stock of a country’s intellectual and skill assets is to improve education. Begitu pula Conny Semiawan (1993:16) menekankan kepentingan human capital formation atau Djudju Sudjana (1991:18) human development and creative planning approach.

Memperhatikan unsur-unsur struktur perdesaan progesif (Wirjomidjojo dan Sudjanadi, 1974:10-11) yang meliputi market towns, jalan-jalan perdesaan, local verification trials, penyuluhan dan fasilitas kredit. Semua itu mempersyaratkan (Mangunwijaya,1985:8-9) bukan hanya sekedar memenuhi jumlah penduduk berpendidikan dasar, pemberantasan buta huruf, melainkan juga mengembangkan daya saing dan penguasaan sains dan teknologi, dan (Shane,1984:82-83) memenuhi ketrampilan disebabkan timbulnya teknososial baru. Bahkan menurut Mintorogo dan Sedarmayanti (1992:14) diperlukan juga self integrity, intellegence, appearance, health, skill, knowledge, emotional control, attitude, character and role. Sehingga sejak lama menurut Rogers A. Kaufman (1972:10) the product of education is no less than the achievement of these minimal skills, knowledges, and attitudes. The behavior and achievements of learners as they function as citizens determines whether the product has been achieved. Jika pendidikan formal di sekolah memiliki kendala dalam membangun peran yang diperlukan oleh masyarakat, terdapat other modes of education (Hagan,1999:4) seperti Community Education or out-of-school education that aim to provide illiterate adults, to assist working adults to be more productive in their business, and to reduce the development discrepancies between urban and rural areas (Djojonegoro,1997:153-154).

Pendidikan manakala diartikan Ki Hajar Dewantara (Saefudin dan Solahudin, 2009:32) sebagai upaya tuntunan agar segala kekuatan yang ada dalam kehidupan seseorang itu menjadi sumber kebahagiaan dirinya sendiri maupun sebagai anggota masyarakat. Sementara itu, pembangunan perdesaan berkenaan dengan modernisasi perdesaan (Schoorl, 1982:242) yang mementingkan perubahan sistem budaya, cita-cita dan pola perbuatan tradisional dan lembaga yang ada memerlukan tambahnya kontak, informasi dan kemampuan penyerapan. Dengan kata lain menurut W. Edwards Deming (1986:466) supply of knowledge in any field can be increased by education. Sistem budaya, cita-cita dan pola perbuatan baru merupakan muatan dari pendidikan yang memiliki sumbangan besar dalam menjembatani antara potensi masyarakat perdesaan dalam menyerap perubahan dan melakukan penyesuaian diri.
Di lain pihak, tugas pembangunan adalah menyelenggarakan perubahan (Bryan dan Luoise, 1987:139). Sehingga proses pembangunan yang diselenggarakan di wilayah perdesaan misalnya melibatkan berbagai dimensi di dalam masyarakat dan perubahan di dalamnya. Perubahan di mana pun dan dalam dimensi apa pun pasti akan menghadirkan implikasi-implikasi tertentu diikuti benturan nilai lama dan nilai baru (Shahab,2007:5). Untuk itu menurut Zubaedi dalam mencermati dimensi-dimensi perubahan sosial pada masyarakat perdesaan perlu dibangun penyesuaian diri dari anggota suatu masyarakat secara penuh kesadaran sehingga lahir social change, cultural change, sociocultural adaptation and adjustment yang menjadi bagian dari perubahan kebudayaan secara umum yang mencakup kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi (Shahab, 2007:9).

Pendidikan sebagai salah satu moda pembangun kesadaran bagi anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan tidak saja mengandalkan upaya formal seperti sekolah, melainkan juga perlu melibatkan pendidikan nonformal. Pertimbangan ini menjadi krusial setelah menyadari perubahan di tengah masyarakat bersifat continuum, dan penyesuaian diri terhadap perubahan membutuhkan upaya perluasan waktu dan tempat belajar tidak berlangsung ketika seseorang menjadi 'school population'.
Karakteristik yang dicirikan dan dipahami sebagai masyarakat perdesaan harus mampu dilengkapi dengan upaya tuntunan agar upaya, hasil pembangunan dan proyeksi perubahan yang diperkirakan dapat memberikan manfaat serta keuntungan positif. Oleh karena itu, selama berlangsung pembangunan dan perubahan dalam masyarakat perdesaan, tuntunan peran dan kedudukan yang dikemas dalam upaya pendidikan adalah mutlak diperlukan; bukan pendidikan formal semata, melainkan upaya pendidikan masyarakat. Banyak istilah dan batasan yang memiliki arti sepadan seperti pendidikan masyarakat, pendidikan luar sekolah, pendidikan non formal, pendidikan berkelanjutan.

Wednesday, February 18, 2009

Below are some comments on Show-And-Tell Time: He's promised to bring change to Washington, but does Obama's calculus include D.C.'s awful schools? Written By Evan Thomas and Pat Wingert | NEWSWEEK Published Nov 22, 2008 From the magazine issue dated Dec 1, 2008
Original article please visit: http://www.newsweek.com/id/170362

These comments are intended to figure out whether school education either school teacher in USA are still facing problematic that required proper solution delivered by Obama's cabinet. That so, we can learn similar case within Indonesian School Education environment.

Posted By: thinker09 @ 01/11/2009 7:47:50 PM
Professions demand proof of knowledge; teaching does not. Once a teacher gets past "registration" teh tenure system is applied.
As a pre-service teacher educator, I'll tell you that even with all the "research" that goes on in education, the real trick is helping children become self-directed learners and moving "authoritive, controlling and power-seeking" teachers to the sidelines. Most researchers rivet on teachers because there is a the notion that a child cannot teach him/herself. I've seen 4 year olds teach themselves to read and to perform multi-digit division. I've seen children, working in the right conditions teach themselves an entire year's curriculum in 10 weeks; however the well-prepared adult on hand only guided interactions and showed students how to interpret natural feedback. This adult didn't relay on power, authority or control. The educator aided the child to teach him or herself. Schooling systems and processes have over-complicated the most innate homo sapien sapien traits - to observe, to symbolize, to abstract the event or findings and to apply them later--to learn.
Most children are natural learners and need little else than an intellectually-emotionally supportive and trusted environment. When adults start treating children like "knowledge entrepreneurs" (entrepreneur as defined by Robert W. MacDonald, the children can and will build their own human capital/capabilities. When textbooks and "cutsey, child-fun" websites and activities are replaced by authentic/practical items and ideas and fact-checked information, then children will learn what needs to be learned. Anyone who deals with an lower SES urban children knows they have figured out really fast how to survival and succeed in their "real" life.
Teachers need to discover in "pre-service" training to recognize the natural and powerful abilities to learn and not a list of pedagogical strategies, techniques, 'programs' and schooling processes. Watching children learn, watching an 18 month-old figure out how to climb stairs) is more useful to any adult assisting children to learn than sitting through 280 hours of lecture, "learning activities" and reading 'theory'. Get out of a child's way, set up a responsive support system and learning will occur.*

Posted By: munie200212533 @ 12/18/2008 10:10:22 PM Teaching is not a profession because teachers are members of a union. To be considered as a member of a profession, its members must hold paramount the interest of the public. Learned professions such as medicine, law, dentistry and engineering practice before the public and are accountable to the public for their performance --- and are subjected to professional discipline and removal from practice if they are incompetent.. Teachers unions protect their members regardless of their competence. Accountablity for performance is the main problem in our public school system.*


Posted By: munie200212533 @ 12/18/2008 9:57:23 PM
Teach*

Posted By: Academic Crusin @ 11/27/2008 2:36:26 AM
Hire,Train,Support and motivate ! Tone,vision,organization and team spirit. Coach and guide to develop higher level thinking skills and it's not about teaching to a test.School climate and listen to the ones that see it differently for objectivity and problem solving solutions.*

Posted By: seriousabouteducation @ 11/25/2008 6:32:55 PM
The fundamental question in this article is: what do teachers need to do a good job? No one is better equipped than Linda Darling-Hammond to provide national leadership on addressing this question and making serious change in our schools. Dr. Darling-Hammond knows that real accountability that promotes good teaching has to be based on high quality assessments of both students and teachers. She has developed these assessments and has studied them. Accountability has to have ???stakes??? and interventions that school staff will respond to. And Dr. Darling-Hammond knows that even the best accountability system cannot work if teachers are not first provided with the real skills and opportunities to plan and improve that good teaching requires. She knows how to build a system that not only can terminate those who are not qualified, but that can make sure that the vast majority of teachers are as prepared and qualified as our students deserve. I was saddened by some of the inaccurate representations in this article, and am very pleased that Linda Darling-Hammond has a significant role in planning the national direction for our schools.*

Posted By: seriousabouteducation @ 11/25/2008 6:02:28 PM
The fund*

Posted By: bdhotwheel @ 11/25/2008 2:04:13 PM
Obama will probably get some liberal fat cat to donate some money to fix up the school that his daughters will be going to and liberal sheep will say hooray! But what about the other schools in the area? I bet he leaves them out to dry like a typical polititian!*

Posted By: Gerrit Jones-Rooy @ 11/25/2008 12:36:33 PM ademeyer- It is true that teachers have difficult times because kids from uneducated families enter the school system far behind their peers. This does not mean however that they are a lost cause.
My classroom of 2nd graders started out on the kindergarten level in reading and left on the 3rd grade level. THE BIGGEST VARIABLE IN A CLASSROOM IS THE TEACHER. The simple fact is that some of the teachers in low income schools are miserable, and the data ins our DC schools reflects that. In order to produce real change and show real growth, new teachers are necessary and bad ones need to be shown the door. Michelle Rea's proposal to allows teachers to opt into a potential $130 dollars a year while removing the right of tenure could promote an influx of new teachers and the new ideas that come with them, while at the same time giving DC the much needed authority to fire those who cannot perform.
I know first hand that all kids CAN BE EDUCATED regardless of the family that they come from, and the idea that they are a lost cause because of who gave birth to them is simply finding a scapegoat for a problem that we have yet to find the guts to solve. We need to give Michelle Rea a chance, and I hope that our future President supports that.*

Posted By: Gerrit Jones-Rooy @ 11/25/2008 12:35:59 PM
ademeyer- It is true that teachers have difficult times because kids from uneducated families enter the school system far behind their peers. This does not mean however that they are a lost cause.
My classroom of 2nd graders started out on the kindergarten level in reading and left on the 3rd grade level. THE BIGGEST VARIABLE IN A CLASSROOM IS THE TEACHER. The simple fact is that some of the teachers in low income schools are miserable, and the data ins our DC schools reflects that. In order to produce real change and show real growth, new teachers are necessary and bad ones need to be shown the door. Michelle Rea's proposal to allows teachers to opt into a potential $130 dollars a year while removing the right of tenure could promote an influx of new teachers and the new ideas that come with them, while at the same time giving DC the much needed authority to fire those who cannot perform.
I know first hand that all kids CAN BE EDUCATED regardless of the family that they come from, and the idea that they are a lost cause because of who gave birth to them is simply finding a scapegoat for a problem that we have yet to find the guts to solve. We need to give Michelle Rea a chance, and I hope that our future President supports that.

Posted By: ademeyer @ 11/25/2008 4:27:11 PM
Bless you for having the talent to be a good teacher. If you had been my mentor or professor, I might have gone into teaching after finishing my certification. I interned in a middle class school system here in Maine and I still found it depressing. I think the system as a whole is broken, but I don't think firing individual teachers is necessarily the solution. I read another story in Time about the conditions these inner city teachers work in, and I think something needs to be done first to improve these general working conditions Thanks for reply, by the way. You probably know more than I do.*

Posted By: ademeyer @ 11/25/2008 11:53:00 AM
Who is hiring these bad teachers? Its just as easy to say Principals should be held accountable for hiring incompetent employees. Besides, new teachers in our state have a probationary period before they are actually hired - principals should be able to decide during that period if the teacher is competent. I don't think the biggest problem is bad teachers, the biggest problem is the dysfunctional families that produce these kids.

Posted By: reinadelaz @ 11/25/2008 1:45:52 PM
The biggest problem is the failure of administrators, teachers and parents to stop pointing fingers and start teaching what needs to be taught! Also, throwing money at the problem hasn't worked for 40 years, and it won't work now!

Posted By: bdhotwheel @ 11/25/2008 2:14:43 PM
Most of the blame also goes to parents that dump their children on the educators instead of being the real role models for their children. A lot of people are having children that are not fit to be parents!*

Posted By: Treyboy @ 11/25/2008 11:44:16 AM
Just remember that the goal is to educate these children and help them to be globally competitive. The goal of education is NOT to have a jobs program for adults. If the parent(s) don't care and the teacher is not qualified, there is no amount of money that will help.*

Posted By: sieg6529 @ 11/25/2008 10:59:08 AM
Teacher's unions are not always bad. In some of the more rural states, they're the only thing keeping the teachers' salary above the poverty line. My old high school just now raised the minimum starting salary for a college-educated teacher to $30K, and only because of union pressure. Trying to categorize unions as always bad or always good is a very simplistic way to look at the situation. It may be abused some of the time, or even most of the time, but they are necessary in certain areas.

Posted By: bdhotwheel @ 11/25/2008 2:11:54 PM
They suck here in California. Their liberal agenda almost brought gay marriage into the curriculum in our public schools. The stupid union poured money into the No on Prop 8 fund when they had no business choosing sides! So unions are a big problem and that is why many teachers here choose private schools. They pay better and are not tied to the liberal agendas.

Posted By: octola @ 11/29/2008 3:23:13 PM
No teacher in his/her right mind would choose private school in CA. The pay is MUCH worse, and they are often tied to conservative agendas because many are religious schools. ps. They had just as much business choosing sides on gay marriage as you did.*

Posted By: modanofan @ 11/25/2008 10:49:18 AM
I am sick and tired of hearing our educators claim "it's for the children'" when what they really are saying is that "it's better for our political and financial positions." This is the same group of people that have seen to it that college costs have risen over 50% in the last few years. Teachers are as greedy as everyone else and they do it all in the name of the children. Unions serve well only when the product they presume to create is continually improved. Don't think we can say that about our education system as a whole.*

Posted By: informedbyteachers @ 11/25/2008 7:47:41 AM
No doubt much needs to be done to transform the Washington DC public schools. President-elect Obama???s selection of Linda Darling-Hammond to head his education transition team sends a strong signal that he is serious about reforming the teaching profession in the District and across the nation. Counter to the perception of some Washington insiders, Darling-Hammond is one of the nation???s most accomplished education researchers who actually has designed and implemented important reforms in teaching and learning. She has created several charter schools in California that serve as professional development sites for preparing teachers for high need schools. She has called for the closing down of poor schools of education and streamlining teacher certification while helping create more rigorous 21st century teacher tests. She has led efforts to improve No Child Left Behind and the current, old-school, standardized tests in order to better measure higher-order skills that our students will need to compete in the global economy. When she has critiqued NCLB it has been to suggest improving its assessments and fixing its accountability provisions, not abandoning the law or its focus on student data and outcomes. For over 20 years she has been in the forefront of crafting new ways to pay teachers for performance while creating school working conditions that give teachers the opportunity to teach effectively. President-elect Obama can do no better by selecting Dr. Darling-Hammond to lead the transformation of teaching, the profession that makes all others possible.*

Posted By: informedbyteachers @ 11/25/2008 7:34:20 AM
No doubt much needs to be done to transform the Washington DC public schools. President-elect Obama???s selection of Linda Darling-Hammond to head his education transition team sends a strong signal that he is serious about reforming the teaching profession ??? in the District and across the nation. Counter to the perception of some Washington insiders, Darling-Hammond is one of the nation???s most accomplished education researchers who actually has designed and implemented important reforms in teaching and learning. She has created charter schools in California that serve as professional development sites for preparing teachers for high need schools. She has called for the closing down of poor schools of education and streamlining teacher certification while helping create more rigorous 21st century teacher tests. She has led efforts to improve No Child Left Behind and the current, old-school, standardized tests in order to better measure higher-order skills that our students will need to compete in the global economy. When she has critiqued NCLB it has been to suggest improving its assessments and fixing its accountability provisions, not abandoning the law or its focus on student data and outcomes. For over 20 years she has been in the forefront of crafting new, relevant, and valid ways to pay teachers for performance while creating school working conditions that give teachers the opportunity to teach effectively. President-elect Obama can do no better by selecting Dr. Darling-Hammond to lead the transformation of teaching ??? the profession that makes all others possible.*

Posted By: Dr. Write @ 11/25/2008 6:59:40 AM
What is amazing to me, as someone with a doctorate in education, is that reform and accountability are now synonomous with standardized testing. Standardized, fill-in-the bubble testing is not a reform and does not equate with either teaching OR learning. If this were the case, it would be more in evidence in the private schools to which Pesident-elect Obama and other members of the ruling class send their children for a fine edcuation. Linda Darling-Hammond knows and understands this, which is why she is so scary to "reformers" like Michelle Rhee. Testing is easy; teaching, learning and real accountability for them are hard, time-consuming and expensive, just like private school education! Denise Stavis Levine, PhD*

Posted By: blondelogic @ 11/25/2008 12:02:35 AM
"He my child but he problem not my fault. Dey you fault - you da teacha, right?"
Hmmmm.

Posted By: 40YearR @ 11/25/2008 1:12:33 AM
You might have revealed more problems than you intended.+

Posted By: Academic Crusin @ 11/27/2008 3:57:47 AM
Call Ringling Brothers and send in the clowns ! That one made me laugh ! Every survival kit needs a sense of humor. "I'm not doing this homework and you can't make me !" "I'll be at your mama's house before the bus pulls over the curb !" You think to long,you may think wrong. Mom and the teacher standing on the porch and the teacher had his books. Butter bing,butter bang and what a surprise ! Uh oh,it's a rodeo !*

Posted By: tfteacher @ 11/24/2008 10:28:36 PM
Just stop. Stop blaming the teachers. It's not our fault. Hell, the measures we use to compare the U.S. to the rest of the world are screwed up! You realize that we compare ALL our students to only the TOP students in other countries, right? The comparison is not apt.

Please, universal healthcare, preschool, and parental commitment to the education of their children is the fix; not firing all the teachers!*

Posted By: mlisman2 @ 11/24/2008 8:40:12 PM
If conservatives could craft a position (without standardized testing-which accomplishes nothing) whereby the good teachers themselves cannot be arbitrarily cast aside, then they may find the teachers joining their numbers.
This is drivel, and the kind of "adults-first" mentality that keeps the worst schools from improving. The only people that care about teachers' tenure is teachers, and it has nothing to do with kids' success. What other profession has "tenure" and is immune from performance reviews?*

Posted By: fmikieo @ 11/24/2008 8:25:59 PM
People, have we already forgotten the good that unions have brought every working man and woman? Because of them, we have fair working conditions, reasonable job protections and even the opportunity to retire if we plan wisely. Study your history-without unions, we'd work 100 hour workweeks in deplorable conditions until we dropped dead at the ripe old age of 50. These were the existing conditions that necessitated the people to come together and form a more direct method of political representation.
Besides, the greatest determinant to a child's success in school has never been either the school or the teacher, but rather the socioeconomic background from which he or she finds themselves.
What the right doesn't understand concerning the issue of tenure is how easily any teacher, good or bad, can be dismissed for either not placating the most powerful of parents or by unfortunate politics. If conservatives could craft a position (without standardized testing-which accomplishes nothing) whereby the good teachers themselves cannot be arbitrarily cast aside, then they may find the teachers joining their numbers.o

Posted By: reinadelaz @ 11/25/2008 1:49:48 PM
Unions? We also have a failed auto industry. If the test has the right questions, what is wrong with teaching the test?*

Posted By: mlisman2 @ 11/24/2008 8:02:50 PM
As much as Obama might want to support Rhee's experiment, it would be highly imprudent for him to publicly and squarely speak out against the teacher tenure, as Rhee calls it, the "holy grain of teachers' unions." Moreover, his support would be moral at best, which would not go that far in fighting what as already become a national union issue; a few ill-advised words from the new president would do much more harm than good.*

Posted By: neoconx @ 11/24/2008 4:15:19 PM
the government hires 3 people to do the work of every 1 person in the private sector, and we're still more efficient , even with the government taking half our money. the only things that tear down our efficiency are the unions, because they are as lazy and corrupt as the government. the new president is beholden to larger government and unions. it's simple arithmetic: subtraction from the middle class bank accounts.*

Posted By: Lee Holmes @ 11/24/2008 1:34:56 PM
Obama can only do this if he takes on the powerful Teachers Unions. After all,why does Detriot[especially CHRYSLER],build such ''awful''cars,while the non-union manufacturers get props for manufacturing a decent ,cheaper,more gas efficient product? Obama,as he sends his kids off to a glitzy DC private school,will have to ponder this.,lest he become another in the long line of ''For Me,But Not For Thee'' types of characters.*

Posted By: Dan_Sample @ 11/23/2008 11:51:39 PM
What about making students accountable? Oh no, we can't have too many dropouts or schools will be punished by NO CHILD LEFT BEHIND!! What about making families accountable for school attendance? The students of inner city schools have "NO HOPE" in the looks of their eyes. Offer them job and money for achievement. I have examined the resume and papers of Linda Darling-Hammond. She is exceptional.*

Posted By: Dan_Sample @ 11/23/2008 11:45:16 PM
What about making students accountable.?..oh oh be careful we cant increase dropouts!! What about making families accountable?....Kids today are more intrested in Entertainment than Achievement....I have examined the resume and papers of Linda Darling-Hammond. Exceptional!!*

Posted By: sarx478 @ 11/23/2008 9:44:11 PM
Let's clarify some issues, shall we?
First and foremost, I commend President and Mrs. Obama for taking the time to decide what school their daughters should attend while they reside at the White House. Caring parents do take the time to decide which school their children should attend, whether its public or private. Second, the educational system is regulated by the state not the federal government. The only obligations that the federal government has to the schools is provinding funds for the Title I and Special Education (IDEA) programs. Therefore, any school budget crisis is handled through the state and district level. Finally, I do understand Chancellor Rhee's position of trying to keep educators who are effective versus those who are not effective. Yet, we need to keep in mind that every state and school district has their own evaluation of the teaching profession. There isn't a universal teacher evaluation form. However, I do disagree in giving merit pay to educators based on students test scores. The reason being that there many students with different learning disabilities or health impairments, who receive instructions in the general education setting, may reach a plateau in their academic achievement and not meet the NCLB requirement for proficiency. Does the instructor deserve to be punish if the student with specific learning disabilites or health impairments doesn't meet NCLB requirements? If that's the case, why not punish the educational administrators who are paid the "big bucks" for their school or district for failing to meet the NCLB requirement. By the way, all educational administrators including Chancellor Rhee should walk through varies classrooms at least twice a week and speak to the instructors - especially around lunch time- to hear their concerns. They are in "trenches" day in and day out.
Chancellor Rhee's method of "Divide and Conquer" will eventually lead to her dismissal. I have seen it too many times with varies administrators whom I have worked for throughout my career. Its best to united your staff and community under a common goal. Division only causes more problems than provide solutions.
What we as Americans should focus is preparing our "future leaders of America" to compete on the world's stage. We are the most diverse nation in the world and yet we don't push for multiligualism and appreciation for multiculturalism. "UNITED WE STAND, DIVIDED WE FALL".o

Posted By: octola @ 11/29/2008 3:31:10 PM
If merit pay is instituted, teachers will fight for the highest students, and won't want to teach the average and low kids. The schools will be rewarded for pushing out the lower kids (sending them to the alternative school or letting them drop out )so they don't lower test scores. I received a bonus once as a 9th grade teacher. The money should have gone to the junior high teachers who taught the students for the 2 years before they came to me!+

Posted By: 40YearR @ 11/29/2008 6:14:49 PM
I'm all for merit pay. From the several I know who went into teaching because they knew they could never be fired, and two most conscientious administrators who worked up through classrooms, I think that weeding out the sloths would be more effective, and eliminate one of the legs of that failure system.
To all you good, conscientious ones, we're behind you and grateful.*

Posted By: Efav @ 11/23/2008 1:58:51 PM
The authors say, "If he backs Rhee's proposal, he will send a powerful signal to struggling inner-city schools that reform is possible. If he fudges or says nothing, it will be a signal that little will change for the poor and mostly black children in the capital's nearly dysfunctional apparatus."
It sounds like they've made up their minds that the Chancellor is right and anyone who disagrees is wrong and that Obama better get with the program if he wants to be successful.
Perhaps the authors are not familiar with how unpopular the Chancellor is becoming in DC for her heavy-handed ways that are not improving the situation and seem to be making it worse. Here are a few examples from recent Washington Post articles:

http://voices.washingtonpost.com/dc/2008/11/rhee_more_principals_facing_th.html

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2008/11/21/AR2008112103222.html

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2008/11/21/AR2008112103225.html?tid=informbox

Perhaps the authors also don???t know that Obama???s success comes from being a community organizer, bringing disparate people together, inspiring hope, mutual responsibility and mutual accomplishment.
Chancellor Rhee seems to be the opposite ??? a community disorganizer, who operates independently and imperiously, alienating people at all levels and inspiring fear and distrust.
Here is a classic Rhee quote: ???I think if there is one thing I have learned over the last 15 months it???s that cooperation, collaboration and consensus-building are way overrated,??? she told the Aspen Institute???s education summit at the Mayflower Hotel. http://voices.washingtonpost.com/dc/2008/09/rhee_who_needs_consensus.html
The same article points out that she has called herself a ???benevolent dictator???
Does any of this sound like something Obama would encourage?*

Posted By: nikki_smith @ 11/22/2008 4:30:18 PM
Only about 12 percent of DC 8th grader can read proficiently, while just 8 percent are proficient in math. About 60 percent of DC students finish their high school diploma. Impressive numbers for the capital of the Free World, don't you think? It's no surprise the Obamas selected a private institute for their girls - most DC parents probably would. I just hope the new president doesn't overlook the public school crisis in his new town. http://www.whgmag.com/index.php/377-obamas-choose-private-school-no-surprise-thereo

Posted By: Doc Howl @ 11/23/2008 3:18:35 PM
I was unaware that Obama had been elected mayor of Washington DC.+

Posted By: Floridave @ 11/23/2008 4:36:03 PM
He couldn't cut it as mayor of DC. They prefer the higher quality candidates like Marion Barry.#
Public Education, Then and Now
By Ben Boychuk
Posted July 14, 2000


America's struggle for freedom officially began with the shot heard 'round the world. But even before the muskets fired and cannons roared in Lexington, it was the education and learning of the Founders that helped guide America to the blessings of liberty.

Today, Americans know that education and learning are in danger. What Noah Webster called the "object of the first consequence" for all governments, routinely ranks at the top of voter concerns in poll after poll.

What to do? The conventional wisdom in Washington is that the myriad problems facing America's public schools today — from poor test scores to stopped-up toilets — are best solved by the federal government. For more than 30 years, centralizers and spenders have promised improvements.

Meanwhile, scores stagnate, curricula slide, and worst of all, entire generations of children fall behind. In the great tradition of America's free press and free speech, investor Ted Forstmann wants a renewed debate about the importance of education and the best ways to secure a better future for every child.

Forstmann is set to spend $20 million of his own money on television commercials to get this message out. For some, the truth will hurt. His message: "America's government-run public-school monopoly is failing our children."

Forstmann has already spent millions, with WalMart heir John Walton, to help the kids who have suffered most under that monopoly. When their Children's Scholarship Fund offered 40,000 private scholarships earlier this year for "at risk" kids, 1.25 million families applied.

Despite Forstmann's efforts, the education establishment has singled him out for savage criticism. Education Secretary Richard Riley accuses Forstmann of trying to "systematically downgrade and demonize" the schools. "A person who has a public voice ought to be using that voice to improve public education," Riley told the Associated Press.

Riley and his cohorts have it backward. In fact, Forstmann is giving voice to a public swamped by lies from special interests, educators, and politicians who see the system as a job protection racket only incidentally interested in children. Riley wouldn't be attacking Forstmann if he didn't fear the truth of his message.

Forstmann's effort to inspire debate and meaningful reform mirrors the Founding Fathers — every one of whom saw education as the real promise and bulwark of a free nation.

The ideals of that generation flowed directly from their learning and reading. Each and every founder raised his "public voice" to advocate universal education. From Washington and Franklin to Adams and Jefferson, every one offered his ideas about the state of education and the best ways to build an informed citizenry — from the lowliest mechanic's son to the most exalted Harvard grad.

As Jefferson wrote of his Virginia education plan in a letter to his friend George Wythe, "The tax which will be paid for the purpose of education is not more than the thousandth part of what will be paid to kings, priests and nobles who will rise up among us if we leave the people in ignorance."

Jefferson was by no means alone. George Washington called for a national university in his First Inaugural Address. John Adams asked his son in Europe to collect books and ideas for republican schools. James Madison tracked the education efforts in Kentucky and praised innovations and challenging curricula there. They agreed with Noah Webster that, "Knowledge, joined with a keen sense of liberty and a watchful Jealousy, will guard our constitutions."

Even before there was a Constitution, the young republic passed the first national education law on July 13, 1787. The Northwest Ordinance was written to govern United States territory north of the Ohio River. It read, in part: "Religion, morality, and knowledge being necessary to good government and the happiness of mankind, schools and the means of education shall forever be encouraged."

Such language — so high in aspiration — welcomed debate, innovation, entrepreneurship and local efforts to educate the citizenry.

Contrast the Founders' view with more recent innovations, such as the Elementary and Secondary Education Act of 1965. A relic of the Great Society, the ESEA was intended to improve the education of poor and disadvantaged kids. What it did, in fact, was extend the web of federal law and the red tape of centralized bureaucracy with almost no accountability. After 35 years and more than $125 billion of federal aid, the poor and disadvantaged are still lagging behind.

It's finally dawning on people that almost a century of progressive educational theories and nearly four decades of federal meddling in the public schools is enough. But the answer is not to separate education from the control of the people. Our national interest in free government depends on an educated citizenry.

When Forstmann's ads hit the airwaves, remember their real purpose: An ignorant people cannot be free. It is the duty of every citizen to be vigilant and make sure government serves the people — not the other way around.

Original site please visit: https://www.claremont.org/publications/precepts/id.113/precept_detail.asp
Department of Education must be abolished
Posted: December 07, 2004
1:00 am Eastern

By Devvy Kidd
© 2009 WorldNetDaily.com



The federal Department of Education was made a part of the president's Cabinet by new world order facilitator Jimmy Carter. Prior to that, America had the finest education system in the world. In 1980, Ronald Reagan promised that, if elected, he would get this unconstitutional department abolished.

That promise was abandoned after his election. While campaigning for his doomed-to-lose bid for the presidency, Bob Dole said on Sept. 9, 1996, while in Georgia, "We're going to cut out the Department of Education." At that time, the GOP presidential platform read, in part:

Our formula is as simple as it is sweeping: The federal government has no constitutional authority to be involved in school curricula or to control jobs in the workplace. That is why we will abolish the Department of Education, end federal meddling in our schools, and promote family choice at all levels of learning.

We therefore call for prompt repeal of the Goals 2000 program and the School-To-Work Act of 1994, which put new federal controls, as well as unfunded mandates, on the States. We further urge that federal attempts to impose outcome- or performance-based education on local schools be ended.

Of course, just the opposite has taken place and, in fact, the goals for creating the "New Communist Man" was given a huge boost with President Bush's deceptive "No Child Left Behind" program. As for the repeal of the School-To-Work Act of 1994, Council of Foreign Relations kingpin Henry Hyde explained it this way:

When carried to its logical extreme, it chooses careers for every American worker. Children's careers will be chosen for them by Workforce Development Boards and federal agencies at the earliest possible age ...

Statewide Workforce Development Boards have formed to study which labor skills are needed in each state to determine "human resources" training requirements. Of course, this will decide also where these human resources will reside.

Chilling to say the least – and it gets worse when one reads President Bush's Executive Order, signed June 20, 2001, titled "21st Century Workforce Initiative." The blueprint for forced labor is now being implemented quietly while parents and politicians scream, "More money for education." Essentially they are asking to pay for the rope to hang their own children.

Most Americans believe "communism is dead," but nothing could be further from the truth and one of the major goals of the propagators of global communist tyranny has always been to get control of America's education system. What better way to reach "the unwashed masses" than through a federal department of education? The tenth plank of the "Communist Manifesto" reads: "Free education for all children in public schools," and this is one of the highest goals of communitarians. Jeri Lynn Ball, author of "Masters of Seduction" explains:

The communitarian efforts to take over the American education system began in 1918 after World War I. Early in the 20th century, John Dewey, "the father of Progressive Education," worked with internationalists to transform America into a communitarian society.

Dewey held that the basic goal of education is the eradication of the child's individualistic traits and "the development of a spirit of social cooperation and community life." Dewey did not want the child to think at all, but to learn to live and work within the narrow, primitive bounds of communitarian vocabulary and thought patterns.

According to the testimony of Norman Dodd, the staff director of the 1953 Congressional Special Committee to Investigate the Tax-Exempt Foundations, the minutes of the Carnegie Foundation revealed that the trustees of the Foundation decided right after World War I that they "must control education in the United States."

They joined together with the Rockefeller Foundation and created a plan to take control of domestic and international education. Dodd interviewed and Rowan Gaither, president of the Ford Foundation and discovered how he operated the foundation under strict instructions and orders "to the effect that we should make every effort to so alter life in the United States that we can be comfortably merged with the Soviet Union."

The federal Department of Education is unconstitutional. Article 1, Section 8 of the Constitution does not authorize Congress to legislate education within the independent, sovereign states who are themselves a "Republican form of government." There is only one solution to stopping the brainwashing of America's children and that is for the states of the Union to completely sever any relationship with the federal Department of Education.

Most Americans don't have the financial resources to put their children in private or Christian schools and because so many mothers have been forced into the workplace to basically work to pay taxes, they can't homeschool. However, the people of the states can do the same thing the great folks down in Tennessee did over their fight against a state income tax: Put the heat on the state house and their state legislatures.

The federal Department of Education must be booted out of the states. Public schools must return to educating children with the basics and stop all social engineering and communitarian indoctrination. To continue down the same path of tossing trillions of dollars at the federal Department of Education is to guarantee transforming America's precious children into the "New Communist Man." We the people must stop this madness.




Devvy Kidd authored the booklet, "Why A Bankrupt America and Blind Loyalty," which has over 2 million copies in distribution. She has been a guest more than 1,600 times on radio shows, run for Congress twice and is a highly sought after public speaker. To learn more about Devvy, please visit her website.

Further detail please visit: http://worldnetdaily.com/news/article.asp?ARTICLE_ID=41802

Thursday, January 22, 2009

Life Skill meanings

Definition of Terms

"Life skills-based education"
A term often used almost interchangeably with skills-based health education. The difference between the two is in the type of content or topics that are covered. Not all program content is considered ''health-related." For example, life skills-based literacy and numeracy, or life skills-based peace education, or human rights.

"Skills-based health education"
A combination of learning experiences that aim to develop not only knowledge and attitudes , but also skills (i.e., life skills) which are needed to make decisions and take positive actions to change behaviors and environments to promote health and safety and to prevent disease.

"Life skills"
This term refers to a large group of psycho-social and interpersonal skills which can help people make informed decisions, communicate effectively, and develop coping and self-management skills that may help them lead a healthy and productive life. Life skills may be directed toward personal actions and actions toward others, as well as actions to change the surrounding environment to make it conducive to health.

"Livelihood skills"
Capabilities, resources and opportunities to pursue individual and household economic goals. Livelihood skills relate to income generation and may include technical/vocational skills (carpentry, sewing, computer programming), job seeking skills such as interviewing, business management skills, entrepeneurial skills, and skills to manage money.

"Knowledge"
The terms "knowledge" and "information" will be used almost interchangeably in this site. In general, however, "information" may describe what is communicated about a particular fact or subject; something you receive or are told. "Knowledge" refers to the state or condition of understanding that fact or subject, and being able to apply it.

"Attitudes"
The term "attitudes" is used throughout this site to encompass the broad domain of social norms, ethics, morals, values, rights, culture, tradition, spirituality and religion, and feelings about self and others.

"Health"
WHO's broad view of health as "the state of complete physical, mental and social well-being" is assumed here. Using this definition, social and economic conditions and the broader environment are considered key determnants of health.

"Health Promotion"
The process of enabling people to increase control over and to improve their health. Health Promotion not only embraces actions directed at strengthening the skills of individuals, but also action directed towards changing social, environmental and economic conditions so as to alleviate their impact on public and individual health. (from WHO Health Promotion Glossary)

(pasted from: http://www.unicef.org/lifeskills/index_7308.html; 230109:10.50)

Monday, January 5, 2009

Mengenang kembali Pendidikan Masyarakat

“Mentari kelak kan tenggelam,

Gelap kan datang dingin mencekam.

Harapanku bintang kan terang memberi sinar dalam hatiku”

“Kulihat di malam itu, kau beri daku senyum kedamaian,

mungkinkan akan tinggal kenangan, jawabnya tertiup di angin lalu”.

Dikutip dari syair ‘Melati dari Jayagiri’ gubahan Iwan ‘Abah’ Abdurahman.

Lirik lagu di atas 40 tahun lalu digubah oleh tokoh Wanadri dan sempat dinyanyikan menjadi terkenal oleh grup penyanyi Bimbo.

Menggali kembali catatan batin lagu ‘melati dari jayagiri’ saat didendangkan kembali lagu tersebut langsung oleh penggubahnya, mengajak penulis hadir di masa 40 tahun silam. Bahkan transformasi pesan batin lagu tersebut masih tetap dapat dirasakan khususnya bagi setiap praktisi Pendidikan dan Pembangunan dalam Masyarakat yang sempat mengenal Jayagiri.

Jayagiri adalah nama sebuah desa kecil yang terletak di atas bukit di kecamatan Lembang, sekarang menjadi wilayah kabupaten Bandung Barat ini, sama seperti dengan tipologi desa lain di wilayah lain. Jalan desa ini menjadi ‘track’ bagi penjelajah dan oencinta alam menuju kaki gunung Tangkuban Perahu. Beberapa tahun terakhir, lintasan ini tak lagi menantang untuk dilalui, ditandai dengan kegiatan ‘hiking’ dan ‘camping’ yang sudah tidak menjadi trend, juga banyak penikmat lokasi gunung tangkuban perahu lebih memilih berkendaraan hingga puncak. Padahal, ada pengalam batin untuk menyatu dengan alam saat menyusuri jalan desa dan jalan setapak di antara tegakan pinus dan belukar menuju kawah gunung tangkuban perahu.

Pengalaman batin di atas tak lagi bisa dirasakan, penataan oleh pengelola kawasan pemangku hutan bandung utara pun seakan mengabaikan hal ini. Seperti halnya, diabaikannya sejarah dan jasa jaringan pipa besi peninggalan belanda dari penampungan di atas bukit yang mengalirkan air bersih untuk kawasan lembang. Perlahan semakin pupus makna tempat bernilai sejarah di Lembang, bahkan Taman Junghun pun hanya terpana dikepung dan sebagian lahannya digerogoti oleh pemukiman padat maupun aktifitas penduduk setiap hari.

Pengalaman yang dirasakan sekarang saat berada di Jayagiri seperti syair lagu di atas, seperti merasakan mentari kelak kan tenggelam.

Jayagiri: Makna sebuah keyakinan

Menyusur jalan desa dari Lembang sepanjang delapan ratus meter kea rah bukit Jayagiri, di bagian sisi kiri jalan empat puluh tahun silam sebuah bangunan menjadi saksi sejarah bagi Pendidikan Masyarakat. Sekarang bangunan tersebut telah dipugar menjadi Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah (BP-PLS) Regional I. Di tempat yang sama, empat puluh tahun silam seumur dengan lagu “Melati dari Jayagiri” didirikan Pusat Penjelidikan dan Latihan Nasional Pendidikan Masyarakat (PPLNPM).

Pusat latihan ini merupakan kelanjutan upaya Divisi Pendidikan Masyarakat yang sejak 1 Juni 1946 merupakan bagian Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk menangani tugas (a) memberantas buta huruf (b) mengelola pendidikan pengetahuan umum dan (c) mengembangkan ‘sistem perpustakaan umum’.

Sebagai negara baru merdeka yang berupaya mewujudkan amanat UUD 1945 memberikan kesempatan pendidikan bagai semua warga negara, saat itu dipilih tiga pendekatan peningkatan taraf pendidikan (a) menambah jumlah sekolah rakyat (SR), (b) memperpanjang waktu SR dari tiga tahun menjadi enam tahun, dan (c) meningkatkan standar dan kualitas pendidikan. Ternyata jumlah peserta didik usia SD, SLP dan SLA tahun 1950 meningkat seratus kali lipat dibandingkan 1945, sementara untuk peserta didik perguruan tinggi melonjak hingga dua ratus kali lipat pada periode sama. Pendidikan dianggap mampu menyediakan kesempatan menguasai pengetahuan dan meningkatkan taraf hidup.

Dihadapkan pada kenyataan tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, dan diperlukan peningkatan peningkatankehidupan intelektual bangsa melalui pendidikan masyarakat. Mangunsarkoro meminta Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) memperhatikan pendidikan masyarakat. Permintaan ini membuahkan dibentuknya Divisi Pendidikan Masyarakat di bawah kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.Perubahan menjadi Departemen Pendidikan Masyarakat dilakukan 1 Agustus 1949 dengan tugas:

  • Mengembangkan, menyempurnakan dan mememnuhi kebutuhan pendidikan masyarakat di luar sekolah formal, sehingga seluruh anggota masyarakat memperoleh kesadaran dan kecerdasan, mencapai kehidupan yang berguna dan menambah nilai bagi bangsa dan dunia;
  • Diantara peran paling penting adalah program pemberantasan buata huruf secara berkelanjutan, menyelenggarakan kursus pengetahuan umum, A, B, dan C, menyiapkan dan membantu penyelenggaraan “Sistem Perpustakaan Nasional” serta penyediaan buku petunjuk dan bacaan. Sejalan dengan peran ini adalah membimbing secara berkelanjutan penyelenggara program pemberatasasn buta huruf, dan penyelenggara program pengetahuan umum mengenai ekonomi, dan tata negara, serta menyediakan buku, layanan dan majalah untuk umum, dsb.

Dalam perkembangan berikutnya, Jayagiri tetap menjadi saksi bisu penyelenggaraan pendidikan masyarakat yang di awal bertajuk pada peningkatan intelektual masyarakat bagi pembangunan dan pengembangan ‘kapital’ masyarakat. Di kemudian hari, pendidikan masyarakat hanya sekedar menggawangi kegiatan pendidikan ‘berbasis manajemen sekolah’ seperti Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Kesetaraan, Pendidikan Kursus.

Beberapa tindakan dan upaya pembangunan dan pengembangan ‘kapital’ masyarakat pun tidak lagi dianggap sebagai bagian dari upaya pendidikan dalam mengembangkan kesadaran, peningkatan intelektual menuju kehidupan yang lebih berdaya guna serta bernilai guna bagi pembangunan bangsa dan dunia.

Penyusutan makna ini semakin jelas dengan melihat, keberadaan PPLNPM (1960-1978) yang berubah sebagai Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) (1978-2003), kemudian Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP) (2003-2007) sebelum Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BP-PNFI) (2007-2008). Sekarang PLNPM itu menjadi Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (P2-PNFI) (2008-…) sementara syair lagu ‘melati dari jayagiri’ semakin nyaring dalam ruang kedap batin anak manusia yang tersenyum getir. Kegetiran akibat perkembangan dan pertumbuhan intelektual masyarakat yang disemai melalui pendidikan masyarakat menjadi hampir niscaya dan pendidikan masyarakat tak lagi dipandang membangun dan mengembangkan ‘kapital’ masyarakat sejajar dengan marjinalisasi pendidikan non formal. Pendidikan Non Formal adalah sebuah strategi pendekatan yang dijadikan acuan instansi Pendidikan di luar jalur sekolah.

Bacaan Lebih Lanjut:

Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda. (2004). The Profile of Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (Centre of Development for Nonformal Education and Youth). Bandung: Centre of Development for Nonformal Education and Youth.

Djojonegoro, Wardiman (1997) Fifty Years of Indonesian Education National Development.

Tuesday, October 28, 2008

Menggagas Pusat Kegiatan berbasis Masyarakat (People Center)

Tranformasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sebagai wahana pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan

A. Pendidikan Berbasis Masyarakat
Banyak tulisan, dan berbagai pendapat menyatakan pendidikan adalah upaya sangat penting yang harus dipilih sebuah bangsa untuk membangun. Bahkan seminar dan lokakarya di berbagai tingkatan turut mendukung, bahwa pendidikan harus diperhatikan jika sebuah bangsa berkehendak mewujudkan cita-cita seperti mengentaskan kemiskinan, kemudian berujung pada kesejahteraan rakyatnya.
Upaya pendidikan yang dimaksudkan seperti ini bahkan menyita perhatian tidak saja pihak pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat. Bahkan masalah pendidikan ini menjadi perhatian utama lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nation for Education, Science and Culture (UNESCO).
Peran pendidikan terhadap pembangunan dan masyarakat diujudkan dengan beragam pendekatan seperti yang dilakukan perwakilan UNESCO di Asia Pasifik, khususnya dalam Education for Sustainable Development (ESD) dan Asia Pacific Program of Education for All (APPEAL). Dua pendekatan yang kemudian menjadi divisi tersendiri di kantor UNESCO yang berkedudukan di Bangkok ini, berperan besar dalam menyemai pemahaman pendidikan tidak hanya di sekolah formal semata.
Tenyata pula, beberapa kajian akademik di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang sekarang telah berubah menjadi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Universitas pengganti, masih menyisakan bahan ajar berkenaan dengan pendidikan masyarakat, pendidikan orang dewasa, pendidikan luar sekolah dsb. Bahan ajar ini sendiri mengandung pesan pendidikan bukan hanya di sekolah semata atau pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah semata.

B. Pendidikan untuk Pembangunan
Dalam pengamatan sehari-hari, pendidikan yang dilakukan tanpa sekolah menjadi wacana yang tidak umum bahkan sangat asing di telinga masyarakat. Bahkan gagasan mengenai pendidikan tanpa sekolah dianggap mengada-ada, termasuk jika sebagian pihak hendak memprakarsai lembaga ‘Community Learning Centre’ maupun ‘People Learning Center’. Sekolah sebagai lembaga ‘penyemai kecerdasan’ menjadi ad referendum, daya tarik sekolah kemudian semakin kuat dan menjadi adiwacana dalam pemikiran dan tindakan masyarakat.
Modal membangun kecerdasan seperti dimaksudkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan tiga jalur utama; pendidikan formal, non formal dan informal. Untuk dua jalur terakhir, kalangan pendidikan mensinergikannya dalam satu wadah, sehingga jalur pendidikan dikelompokkan dalam pendidikan formal dan nonformal/informal.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menyegarkan pemikiran terhadap kenyataan upaya pendidikan melalui lembaga di luar sekolah. Selain tentu saja mengajak, pemerhati dan praktisi pendidikan untuk turut menjelajahi pilihan praksis pendidikan di luar sekolah bukan hanya sekedar pengajaran di luar sekolah semata. Sehingga pada gilirannya dapat dipelopori berbagai tindakan awal menuju perbaikan kualitas bangsa dan negara.
Sebagai tambahan, tulisan ini dimaksudkan pula untuk memunculkan dan mencetuskan pemikiran dan gagasan pendidikan luar sekolah di tengah wacana yang memaparkan pendidikan sekolah kehilangan superioritas dalam menjawab tantangan bangsa dan negara Indonesia lima tahun mendatang. Keterpurukan sejak krisis ekonomi tahun 1998, ditenggarai menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk memikirkan upaya di luar pakem pemahaman dan aturan yang dijadikan acuan selama ini.
Bahwa pendidikan selama ini disangsikan mampu menghantarkan bangsa Indonesia lebih tangguh menghadapi krisis, bisa dibenarkan. Hal ini karena pendidikan tidak mampu membangkitkan energi pada masyarakat untuk proaktif menjegal krisis termasuk perubahan yang menyertai. Pendidikan memang bukan salah satu penyebab utama, banyak sebab lain, namun pendidikan sebagaimana sering disebutkan harus turut menawarkan pilihan untuk membangun kesadaran untuk tidak hanya berlaku reaktif terhadap perubahan, dibandingkan hanya mampu menyalahkan diri sendiri tanpa berbuat apapun.

C. Pembangunan di Negara Berkembang
Praktek pembangunan yang dilakukan di negara berkembang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan dan penyelenggaraan pendidikan baik mikro maupun makro kehidupan dan masa depan masyarakat suatu negara. Kepentingan ini, dapat dilihat sekurang-kurangnya dari potensi pendidikan: (Shane,1984:38-40)
1. Wahana untuk implementasi nilai-nilai masyakarat yang berubah dan hasrat masyarakat yang muncul yang menimbulkan nilai-nilai baru.
2. Banyak masalah pokok dapat diatasi dengan pendidikan, jika pengertian tentang tujuan pendidikan dapat diperoleh kembali.
3. Timbulnya fleksibilitas dan respon terhadap perubahan dan alternatif pendidikan.
4. Perbaikan iklim psikologis kemampuan untuk berkontribusi menjadi tidak berarti tanpa motivasi untuk berkorban.
Berkenaan dengan implementasi nilai-nilai masyakarat, pembangunan tidak saja berurusan dengan penyediaan sandang, pangan dan papan semata. Pembangunan juga harus memperhatikan bidang psikis individu seperti nilai-nilai, persepsi dan termasuk pula semangat. Ketiga bidang psikis ini dalam proses pembangunan mengalami transformasi, sebut saja sebagai contoh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan. Selama proses pembangunan terjadi seringkali dijumpai pertentangan niliai yang bersumber pada kepentingan yang berbeda antara pembangunan suatu kawasan dengan peletarian kawasan tersebut. Pertentangan semacam ini bukan secara sederhana terletak pada persoalan peruntukan dan tata guna lahan, akan tetapi lebih pada bagaimana suatu lahan dianggap memiliki nilai bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat. Keberadaan nilai ini kerap kali tidak dapat ditakar secara materi atau bentuk nominal lainnya.
Pengertian tentang tujuan pendidikan seperti dikatakan Nettleford (Lowe, 1970:13) preparing people not for examinations and certificates but for their own.

D. Pemberdayaan Masyarakat sebagai pilar Penanggulangan Masalah Lingkungan.
Masalah
kemiskinan di Indonesia sudah lama menjadi fokus perhatian dan mencetuskan banyak program pengentasan kemiskinan. Program pengentasan kemiskinan telah diluncurkan oleh pemerintah, antara lain: Inpres Desa Tertinggal (IDT) tahun 1994, Proyek Peningkatan Desa Tertinggal (P3DT), Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK), Pengembangan Kawasan Tertinggal (PKT) tahun 1989 – 1994. Semua program yang digagas untuk mengentaskan kemiskinan belum menunjukkan hasil optimal. Beberapa kelemahan yang nampak kemudian adalah:
1. koordinasi antara perencanaan dan pelaksanaan program baik dalam departemen maupun antar departemen belum optimal,
2. keterlibatan masyarakat dalam merumuskan perencanaan dan pelaksanaan program belum maskimal,
3. kelanjutan program masih dipandang sebagai proyek temporer,
4. masyarakat miskin cenderung menjadi sasaran ‘obyek’ program dibandingkan ‘subyek’.
Kenyataan di atas telah memberikan dampak lanjutan yang secara nyata dapat diukur berdasarkan:
1. Akses terhadap prasarana maupun sarana dasar lingkungan secara memadai,
2. Kualitas perumahan dan permukiman di bawah standar kelayakan, serta
3. Mata pencaharian yang tidak menentu.
Selama ini banyak pihak melihat persoalan lingkungan hanya tertuju pada tataran gejala-gejala yang tampak luar yang kasat mata dibanding konteks dan hakekat masalah lingkungan itu sendiri.
Padahal masalah lingkungan mencakup masalah multidimensi baik politik, sosial, ekonomi, aset dan lain-lain. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dimensi-dimensi gejala-gejala masalah lingkungan tersebut dapat dipahami di bawah ini, seperti antara lain :
• Dimensi Politik, berbentuk kelangkaan wadah organisasi yang mampu memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat terhadap lingkungan. Sehingga masyarakat benar-benar tersingkir dari proses pengambilan keputusan penting yang menyangkut lingkungan diri. Akibat dari ini, mereka tidak memiliki akses memadai ke berbagai sumber daya kunci yang dibutuhkan untuk mendukung hidup secara layak, termasuk akses informasi;
• Dimensi Sosial, kerap menempatkan masyarakat tidak berintegrasi ke dalam institusi sosial yang memperhatikan lingkungan, hal ini menyebabkan internalisasi budaya yang merusak kualitas manusia dan etos kerja mereka, termasuk nilai-nilai kapital sosial yang semakin pudar;
• Dimensi pendidikan menonjol dalam bentuk sikap, perilaku, dan cara pandang masyarakat yang tidak berorientasi pada lingkungan pembangunan berkelanjutan sehingga cenderung memutuskan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang kurang menjaga kelestarian dan perlindungan lingkungan serta permukiman;
• Dimensi Ekonomi antara lain berujud pilihan sumber penghasilan masyarakat sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka tanpa melampaui daya dukung lingkungan yang layak; dan
• Dimensi Aset, ditandai dengan rendahnya kepemilikan masyarakat ke berbagai hal yang mampu menjadi modal hidup mereka, termasuk aset kualitas sumberdaya manusia (human capital), peralatan kerja, modal dana, hunian atau perumahan, dan sebagainya.
Karakteristik masalah lingkungan yang dipaparkan terakhir telah menyadarkan semua pihak terhadap isu sentral perusakan lingkungan. Isu tersebut adalah pendekatan dan cara penanggulangan masalah lingkungan yang mengandalkan penguatan kelembagaan masyarakat.
Penguatan melalui pemberdayaan kelembagaan masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun organisasi masyarakat agar mampu menjadi wadah bagi masyarakat miskin untuk memperjuangkan diri, hidup mandiri dan secara berkelanjutan menyuarakan aspirasi maupun kebutuhan mereka. Di lain pihak penguatan ini, diharapkan mampu memberikan sumbangan potisitf terhadap proses pengambilan keputusan berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal, baik aspek sosial, ekonomi maupun lingkungan.
Penguatan kelembagaan masyarakat ini pun dititikberatkan pada upaya pemberdayaan peran masyarakat sebagai motor penggerak sekaligus ‘melembagakan' dan ‘membudayakan' kembali nilai-nilai kemanusiaan serta kemasyarakatan, sebagai nilai-nilai utama yang melandasi aktivitas penanggulangan masalah lingkungan masyarakat setempat. Melalui kelembagaan diharapkan kelompok masyarakat tidak ada lagi yang terjebak pada perusakan lingkungan, pada gilirannya mampu menciptakan lingkungan dengan perumahan lebih layak huni, dilengkapi sistem sosial masyarakat yang lebih mandiri dalam melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
Selama ini kelembagaan masyarakat lebih banyak dihadirkan dalam konteks legal-politis seperti LKMD atau LMD. Kedua lembaga di tingkat desa ini tidak jarang mengedepankan ketokohan dan kepemimpinan figur tunggal kepala desa. Penokohan seperti ini dengan mengeliminasi tokoh masyarakat lain dianggap mengabaikan kapital sosial yang dimiliki masyarakat.
Model kelembagaan dengan mengedepankan pencitraan seperti di atas dirasakan mempengaruhi peran serta masyarakat. Padahal sesungguhnya masyarakat menyimpan daya dukung dan daya dorong dalam setiap hal yang berkaitan dengan kehidupan mereka, tidak terkecuali dimensi lingkungan.

E. People Center sebagai wadah pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan.
Dimensi pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat pada tahap awal harus dicerminkan melalui interaksi masyarakat. Melalui wadah Community Learning Center (CLC) (UNESCO, 2002) seperangkat pengetahuan dan keterampilan diarahkan untuk mendukung sikap kondusif terhadap peningkatan kapasitas warga masyarakat. Di sejumlah negara, CLC ini diadopsi dalam ujud community center, sedangkan di Indonesia menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Seluruh program pembangunan yang melibatkan masyarakat dan mendasarkan diri pada peran serta aktif masyarakat, pada tahap awal harus menempatkan mereka sebagai subyek pembangunan, termasuk dalam meningkatkan kapasitas diri mereka.
Peningkatan kapasitas dalam diri warga masyarakat diakui dapat menjadi pemicu keinginan untuk tumbuh dan berkembang, baik dalam skala perorangan dan kelompok. Setelah keinginan untuk berubah dimiliki bersama, masyarakat selanjutnya dapat memanfaatkan sumber daya ekonomi lokal, maupun modal sosial lain untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam membangun.
Belajar dari contoh nyata yang ditemukan di Cina, penyelenggaraan model pendidikan di masyarakat dalam bentuk 社区(baca: Shequ) telah mampu mengantarkan masyarakat mentransformasikan diri mereka. Bentuk transformasi yang diterima masyarakat antara lain budaya baru yang lebih demokratis. Budaya baru ini menjadikan masyarakat mampu melaksanakan pembangunan secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya dan modal sosial masyarakat sendiri.
Bentuk lain yang hampir sama berhasil mengembangkan peran aktif masyarakat dalam pembangunan adalah Community Center di Thailand. Melalui community center ini, masyarakat mampu membudidayakan sumber daya ekonomi lokal. Pemerintah Thailand mencanangkan program unggulan potensi ekonomi lokal ini dengan bendera One Tambon One Product (OTOP). Setiap daerah didorong untuk memunculkan produk barang yang memiliki karakteristik berbeda yang bernilai pasar serta ekonomi. Tentu saja berbasis daya dukung lingkungan setempat.
Sekalipun program OTOP ini diilhami oleh program sejenis di Jepang yang dinamakan One Village One Product (OVOP), masyarakat Thailand membuktikan pendekatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat melalui wadah community center lebih optimal.
Dari beberapa diskusi mendalam, ditemukan bahwa keberadaan wadah yang mampu menampung interaksi masyarakat dalam membangun diri mereka, harus diawali oleh proses pendidikan berbentuk penyadaran diri, peningkatan dan penambahan pengetahuan, keterampilan dan pembentukan sikap baru yang akomodatif terhadap perubahan. Interaksi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan peningkatan dan penambahan pengetahuan, keterampilan dan pembentukan sikap baru semakin berdimensi luas disbanding dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pendidikan di luar sekolah atau Pendidikan Non Formal pada gilirannya harus memainkan peranan penting.
Tidak dapat dipungkiri lagi, apapun bentuk dan program pembangunan masyarakat oleh berbagai departemen, penyadaran awal melalui proses pendidikan adalah hal mutlak. Akan tetapi, penyadaran seperti itu berlangsung secara temporer sejalan dengan tenggat waktu pelaksanaan proyek sebuah pembangunan. Hal ini berseberangan dengan hakekat proses pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat. Sehingga sudah saatnya pula, proses pemberdayaan masyarakat harus mengedepankan proses pendidikan yang berlangsung lebih lama dibandingkan sekedar pemenuhan target proyek fisik semata. Karena, pembentukan sikap masyarakat berlangsung secara akumulasi. Akumulasi sikap yang intangible ini akan menjadi parameter penting bagi keberhasilan penyelenggaraan pembangunan di masa mendatang. Akan tetapi penyelenggara pembangunan fisik di masyarakat, lebih banyak tidak menghiraukan akumulasi sikap seperti ini. Sehingga kerap program pembangunan menumbuhkan kebingungan dan menjadikan masyarakat sekedar memenuhi target yang diminta.
Pembangunan yang mementingkan kelanggengan hasil dan manfaat harus serta merta menempatkan masyarakat sebagai stakeholder di awal perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan hasil. Mengabaikan salah satu di antaranya akan mengurangi makna penting upaya pembangunan itu sendiri. Berbagai bentuk interaksi dan peran serta masyarakat dapat diakomodasi dalam wadah people center.
Kegamangan pemerintah terhadap penyelenggaraan people center sebagai lembaga pendidikan non formal seperti ini berbanding lurus dengan keterbatasan pemahaman pemutus kebijakan dalam memahami pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan lebih diukur dengan berapa banyak komposisi barang material yang disumbangkan masyarakat terhadap dana stimulan pemerintah. Padahal komposisi immaterial milik masyarakat seperti proses pengambilan keputusan dan modal sosial lain juga perlu diperhitungkan.
Kebijakan yang mendukung terhadap perwujudan people center saat ini masih bersifat sektoral bahkan berlangsung dalam skala ujicoba. Bandingkan antara lain sejumlah penyelenggaraan berbasis komunitas seperti kelompencapir – departemen penerangan, kelompok tani – departemen pertanian, pengelolaan hutan oleh masyarakat – departemen kehutanan, P2KP – departemen pekerjaan umum, PKBM – departemen pendidikan, keluarga sejahtera – BKKBN, Posyandu; dasa wisma – PKK/Meneg UPW, Rumah Srikadi – Menko Kesra. Pelaksana di masing departemen memanfaatkan kondisi nyata masyarakat namun tidak memiliki sasaran tembak yang tepat, lebih dari sekedar memberondong nyamuk menggunakan senapan berkaliber besar. Seandainya ditetapkan pelaksanaan pembangunan yang mengentaskan kemiskinan seperti ‘snipper’ penembak jitu, maka keberadaan masyarakat dapat menjadi pemandu sasaran yang mengamati secara seksama masalah dan dimensi kemiskinan itu sendiri.
Keterampilan dan sikap masyarakat sebagai pemandu sasaran ‘penembak jitu’ dalam mengentaskan harus senantiasa berkembang dari waktu ke waktu melalui peningkatan dan penambahan pengetahuan. Hal ini hanya dimungkinkan apabila akses peningkatan dan penambahan pengetahuan yang dinamakan ‘industri intelegensia’ secara luas tersedia di masyarakat. Sekolah di satu sisi sisi menawarkan peran sebagai ‘knowledge center’, namun keterbatasan yang mewarnai karakteristik sekolah tidak member keleluasaan bagi masyarakat. Masyarakat untuk membangun menghendaki akses ‘knowledge center’ tanpa batas seperti ditawarkan oleh people center. Sekolah hanya diperuntukkan untuk mereka yang terdaftar sebagai murid atau peserta didik. Sedangkan kebutuhan akses peningkatan pengetahuan diperlukan oleh setiap anggota yang tidak lagi sekolah.
People center sebagai wadah pemupukan intelegensia masyarakat menjadi krusial dan sudah saatnya dipikirkan dalam konteks pembangunan dan pemberdayaan masyarakat

F. Dari Filsafat Pendidikan menjadi Filsafat Keaksaraan (Literacy)
Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana diundangkan memiliki tiga jalur sebagai wahana pencapaian tujuan. Secara ideal, ketiga jalur tersebut mendapat perhatian sepadan, bahkan pemerintah tidak memilah dan membedakan ketiga jalur pendidkan tersebut. Namun beragam keterbatasan dimiliki pemerintah dalam menghantarkan ketiga jalur tersebut sebagai inti layanan pendidikan bagi seluruh rakyat. Diiringi persepsi dan kebiasaan masyarakat terhadap layanan pendidikan, tidak mengherankan apabila diantara ketiga jalur layanan tersebut, pendidikan sekolah lebih menyita perhatian termasuk kebijakan pengembangan dan penetapan program. Kondisi tersebut selain menciptakan ketimpangan juga menyemai ketidakadilan perlakuan baik terhadap penyelenggara, sasaran dan program pendidikan. Kalau pun ketiga jalur memiliki keunggulan masing-masing, seyogyanya karakteristik masing-masing mendapat porsi perhatian seperti paket kebijakan yang sesuai. Paparan karakteristik jalur pendidikan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai dasar memahami tulisan ini adalah:
a. Jalur Pendidikan Formal (PF)
b. Jalur Pendidikan Non Formal (PNF)
c. Jalur Pendidikan In Formal (PIF)
Hingga pergantian kabinet menyusul keruntuhan orde baru, PF masih memegang kunci dalam menetapkan arah dan acuan pendidikan nasional. Bahkan sumber daya yang digunakan untuk menjalankan kebijakan berkiblat pada pendidikan formal menjadi porsi terbesar anggaran belanja pendidikan. Selain itu, ketimpangan dapat dilihat dari jumlah bidang yang menangani pendidikan formal, dibanding dua jalur pendidikan yang lain. Sebut saja tingkatan direktorat jenderal membidangi setiap jenjang pendidikan formal; direktorat jenderal pendidikan dasar, direktorat jenderal menengah dan lanjutan, dan direktorat jenderal pendidikan tinggi. Berbeda dengan jenjang urusan jalur pendidikan non formal yang hanya ditangani cukup direktorat jenderal Pendidikan luar sekolah membawahi direktorat pendidikan masyarakat, dan direktorat kursus. Direktorat Pendidikan Masyarakat yang menangani pemberantasan buta aksara, kejar Paket A, kejar Paket B, dan kemudian Paket C jelas tidak seimbang dibandingkan dengan porsi ketiga direktorat jenderal pendidikan dasar, pendidikan menengah dan lanjutan pada jalur pendidikan formal. Pengelompokkan urusan dan pembagian bidang kerja yang tidak seimbang diantara dua jalur layanan pendidikan, telah menyebabkan upaya pendidikan di luar sekolah tidak menempatkan lebih dari sekedar ‘penambal’ pendidikan sekolah. Manakala pendidikan sekolah dianggap gagal, pendidikan di luar sekolah tetap tidak dapat memberikan sumbangan sebagai aktor yang berperan dalam mencerdaskan bangsa dan masyarakat.
Dalam perkembangan berikutnya, meskipun dilakukan pembenahan di jalur direktorat jenderal ‘pendidikan formal’, perubahan ini belum memberikan dampak terhadap kiprah pendidikan non formal sejalan dengan pandangan sebelah mata yang diberikan terhadap pendidikan non formal. Penyelenggaraan pendidikan nasional seperti ini tidak lepas dari pandangan politik yang berlaku.
Penanganan krisis multi dimensi yang tidak kunjung berkesudahan berujung pada permasalahan kapasitas dan karakteristik tingkat pendidikan milik masyarakat. Sehingga pangkal masalah berujung pada bagaimana penyelenggaraan pendidikan mampu meningkatkan ketahanan dan ketangguhan masyarakat. Suatu bangsa akan berhasil dalam pembangunannya secara ‘self propelling’ dan tumbuh maju apabila telah berhasil memenuhi minimum jumlah dan mutu (termasuk relevansi dengan pembangunan) dalam pendidikan penduduknya (Tjokroamidjojo dan Mustopadidjaja, 1984:79). Kegagalan dunia pendidikan yang dikuasai kebijakan jalur formal, dengan mengabaikan potensi pendidikan non formal dan informal telah meniadakan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas dan kecerdasan diri mereka sendiri. Pendidikan sebagai syarat penting dan komponen utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak semata dikendalikan oleh pelaku tunggal seperti pendidikan formal, namun juga harus didukung pelaku lain yaitu pendidikan non formal dan in formal. Kebijakan pendidikan bagi William R. Ewald Jr. (1968:38) An education system is a political phenomenon ... taken serious everywhere. Individuals are conviced that they need it, or at least the formal indicia of it ... means of attaining power and prosperity.
Kiprah pendidikan terhadap pembangunan dan peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat semakin mengemuka dan menyadarkan banyak praktisi pendidikan. Hal ini sejalan dengan kegagalan pendidikan formal yakni sekolah untuk bertindak menjadi pelaku utama, sekolah makin lama makin tidak mampu melaksanakan fungsi mereka sekarang (Shane,1984:20)
Dalam konteks pembangunan secara umum, kesertaan masyarakat dalam proses membangun diri sendiri menjadi kriteria keberhasilan proses pembangunan. Kemandirian dan kematangan masyarakat suatu bangsa yang berakumulasi berperan penting dalam mendukung arah dan keberhasilan penyelenggaraan pembangunan.
Pendidikan dasar sembilan tahun dengan titik berat pada penguasaan ketermpilan dasar (baca-tulis-hitung) dan pengetahuan dasar meliputi pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan lingkungan alam – sosial – budaya, pengetahuan tentang gizi dan pendidikan agama (Moegiadi,1992:6) masih belum memenuhi kebutuhan untuk menjadikan bangsa yang besar dan beraneka ragam suku serta budaya seperti Indonesia untuk bertahan di tengah hempasan krisis moneter disusul dampak globalisasi.
Hasil proses pendidikan tidak saja sekedar mensyaratkan keterampilan, pengetahuan dan sikap minimal, bahkan mencakup the behavior and achievements as they function as citizen (Kaufman,1972:10). Dengan demikian, proses pendidikan yang mengutamakan keaksaraan dasar (baca-tulis-hitung) dapat ditransformasikan menjadi keaksaraan lanjutan dengan berbagai muatan sebagaimana isu yang menjadi perhatikan masyarakat seperti lingkungan.
1. Pendidikan Keaksaraan (Literacy) sebagai Arus Utama
Hal ini secara implisit menjadi hak mendapatkan pendidikan yang secara eksplisit melekat pada anak dan orang dewasa, sebagaimana dicantumkan konvensi internasional, termasuk deklarasi PBB. Deklarasi Hak Asasi Manusia tahun 1948 yang memuat hak untuk mendapatkan pendidikan misalnya. Serta beberapa konvensi internasional lainnya, antara lain konvensi untuk melakukan tindakan sipil dan menyatakan hak politik, begitu pula dengan konvensi bidang ekonomi, sosial dan hak budaya yang disepakati tahun 1966. Semuanya menjadi sumber Deklrasi Hak Asasi PBB, termasuk di dalamnya konvensi 1979 mengenai pencegahan tindakan dikriminasi bagi wanita dan konvensi hak hidup anak 1989.
Tahun 1975 menjelang deklarasi inti diterima, keaksaraan menjadi sorotan utama dibandingkan dengan hak untuk mendapatkan pendidikan itu sendiri. Tahun 1960 ditetapkan konvensi terhadap dikriminasi dalam pendidikan khususnya bagi tiap orang yang tidak dapat menyelesaikan dan mengikuti jenjang pendidikan dasar. Deklarasi Persepolis menuliskan: Keaksaraan bukan berakhir pada penguasaan, tetapi merupakan hak dasar manusia (UNESCO, 1975a). Baik Konvensi Hak Anak (CRC) dan Anti Perlakuan Dikriminasi terhadap Wanita (CEDAW), keduanya mengisyaratkan promosi keaksaraan dan pemberantasan ke-niraksara-an. Misalnya Ayat 10(e) CEDAW yang diterapkan 1981 menegaskan hak orang dewasa untuk melek huruf, dengan melibatkan berbagai elemen untuk memberikan kesempatan yang sama dalam pendidikan berkelanjutan, seperti program keaksaraan fungsional dan pendidikan orang dewasa. Sedangkan CRC menenggarai keaksaraan sebagai keterampilan pokok dimana setiap anak harus dilibatkan dan ditekankan pada kebutuhan untuk dapat mengatasi persoalan kehidupan melalui keaksaraan (UNHCR, 1989). Tujuan strategis deklarasi dan Kerangka Aksi Beijing 1995 adalah memberantas buta aksara perempuan.
Deklarasi Anti Dikriminasi Pendidikan (CDE) menggarisbawahi dukungan dan peningkatan metode pendidikan yang sesuai bagi setiap orang yang belum mendapat layanan pendidikan dasar bahkan mereka yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar secara lengkap serta kelangsungan pendidikan mereka sesuai kapasitas pribadi (UNESCO, 2005). CDE selanjutnya menuntut peningkatan kesempatan keaksaraan melalui pendidikan berkelanjutan.
Banyak tuntutan yang mensyaratkan pembaruan hak atas keaksaraan. Resolusi 11 deklarasi Hamburg menyatakan: ‘keaksaraan, secara umum dimaknai sebagai pengetahuan dan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam menyikapi perubahan dunia, dan karenanya menjadi hak fundamental seseorang’ (UNESCO, 1977) Laporan konferensi meja bundar UNESCO Keaksaraan sebagai bentuk Kebebasan merekomendasikan bahwa keaksaraan merupakan kerangka dasar pendekatan dan prinsip pengembangan masyarakat (UNESCO, 2005).
Berbeda dari hak keaksaraan yang diusung berbagai pertemuan dan deklarasi, pengertian hak dalam batasan pemberatasan niraksara, sebagaimana CEDAW dan deklarasi Beijing, menyatakan persamaan keaksaraan dengan pengetahuan dan ke-niraksara-an sebagai kebodohan. Keaksaraan pun sebagai bentuk hak mendapat pendidikan dipandang sebagai seperangkat keterampilan pokok pendidikan dasar atau fundamental, sebagaimana disyaratkan CDE.
Sebagaimana dirintis UNESCO, pengertian ‘pendidikan fundamental’ menyiratkan kemampuan membaca, menulis dan menghitung dengan penekanan pada membaca dan menulis (UNESCO, 2005). Sementara menghitung biasanya hanya dijadikan bagian pelengkap formal saja, kata ‘keaksaraan’ sendiri umumnya membatasi diri pada keterampilan membaca dan menulis.
Bagian 1 pendahuluan CRC (ayat 29), misalnya, mengemukakan bahwa ‘keterampilan dasar mencakup tidak hanya keaksaraan dan berhitung tetapi juga life skills [Keterampilan Hidup, pen.]. Dalam kaitan ini, ‘keaksaraan; masih diartikan membaca dan menulis semata.
Deklarasi global pendidikan untuk semua (Jomtien, Thailand, 1990) butir 1.1. merumuskan ‘keaksaraan, komunikasi lisan, berhitung, dan pemecahan masalah menjadi bagian penting pendidikan yang memperkaya pemenuhan kebutuhan belajar mendasar setiap orang.
Gagasan pokok yang menyatakan keaksaraan sebagai kemampuan membaca dan menulis bersumber pada materi pelajaran bahasa yang memungkinkan seseorang belajar menulis dan membaca. Hak mendapat kesempatan belajar bahasa sama sekali berbeda dengan kesempatan belajar yang ditawarkan melalui bahasa. Butir 27 ICCPR menyatakan lebih lanjut hak warga minoritas untuk menggunakan bahasa mereka; hal ini termasuk pengertian menggunakan bahasa minoritas mereka dalam pergaulan sehari-hari yang terbatas. Peraturan internasional mengijinkan setiap negara menggunakan bahasa resmi kenegaraan masing-masing. Begitu pula sekolah umum dapat menggunakan bahasa resmi tersebut di samping bahasa daerah setempat. Di Namibia misalnya, program keaksaraan ditempuh dalam tiga tingkatan, kelas pertama dan dua menggunakan bahasa ibu, dan kelas tiga memakai bahasa Inggris bagi pemula, sehinga warga belajar dengan kemampuan keaksaraan berbeda dapat mengikuti seluruh proses pendidikan. Kenyataan pendidikan umum hanya menggunakan bahasa resmi sebagai pengantar, hal ini bisa dikaitan dengan hakekat asasi yakni keragaman dalam pendidikan, termasuk bahasa dalam menyampaikan bahan pelajaran, termasuk jaminan kesempatan mengembangkan sekolah khusus. Perkembangan tuntutan pendidikan formal dwi-bahasa telah memberikan dampak terhadap program pemuda dan orang dewasa dalam pendidikan non formal.
Banyak tulisan, termasuk persepolis dan deklarasi hamburg, mensyaratkan wawasan keaksaraan secara lebih luas dari sekedar kemampuan baca dan tulis saja. Keaksaraan juga melingkupi akses terhadap ilmu pengetahuan dan tehnik, penguasaan informasi termasuk menikmati manfaat budaya dan penggunaan media, baik itu untuk meningkatkan kemampuan diri dalam bekerja atau tidak sama sekali. Keaksaraan juga mencakup batasan pendidikan fundamental, kemajemukan life skill untuk beragam situasi; sebagai contoh, butir 22 konvensi berkenaan dengan pengungsi yang menjamin setiap pengungsi memperoleh perlakukan sama di tiap negara yang ditinggali setingkat pendidikan dasar. Selain itu, keaksaraan menjadi alat pemenuhan kebutuhan hidup sekaligus meningkatkan peran serta dalam bidang sosial, budaya, politik dan ekonomi, khususnya bagi anggota masyarakat di daerah tertinggal. Perhatian pada pengembangan pendidikan seumur hidup secara inklusif menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan hidup universal dan hak keaksaraan.
Sebagai tambahan, peningkatan keaksaraan pun ditopang kegiatan bidang teknologi, keterlibatan masyarakat sipil dan belajar sepanjang hayat. UNESCO senantiasa menciptakan dukungan untuk penyebaran informasi, menumbuhkembangkan teknologi komunikasi untuk menjembatani dan mendayagunakan keragaman budaya dan bahasa. Program bantuan PBB (UNDP) menyatakan bahwa penguasaan pengetahuan, kesempatan mendayagunakan potensi untuk meningkatkan standar kehidupan serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat merupakan prasyarat mutlak pembangunan umat manusia. Pemanfaatan wahana ini, kemampuan dan beragam potensi sumber daya akan menjamin perkembangan keaksaraan.
Keaksaraan dengan sendirinya sangat erat berkaitan dengan upaya pendidikan berkelanjutan atau belajar sepanjang hayat.
Akhirnya, keaksaraan dapat dipandang bukan hanya sebagai suatu hal mutlak melainkan sebagai mekanisme untuk mencapai hak asasi, hanya hak asasi mendapatkan pendidikan sebagai satu-satunya alat memerangi keniraksaraan.
Oleh karena itu keaksaraan harus didukung sebagai mainstream pendidikan melengkapi kecakapan hidup dan gender yang telah ditetapak lebih awal.
2. Keaksaraan (keaksaraan) sebagai energi pemberdayaan
Latar belakang keaksaraan dipandang sebagai hak digambarkan oleh manfaat yang bisa dirasakan oleh pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Apalagi, jelas dalam kehidupan masyarakat modern, ‘kemampuan keaksaraan sangat dibutuhkan untuk menentukan pengambilan keputusan, pengembangan pribadi, keterlibatan aktif dan pasif baik di tingkat lokal maupun masyarakat global. Manfaat keaksaraan dapat dirasakan sejalan dengan perluasan hak dan pengembangan di berbagai tempat dan pelaksanaan secara efektif. Manfaat pribadi, misalnya, diujudkan melalui media tertulis yang dapat ditemukan di kelompok masyarakat modern, dan manfaat ekonomi secara luas dapat diujudkan melalui kerangka makroekonomi, investasi bidang prasarana dan berbagai kebijakan pembangunan yang relevan.
Dengan kata lain, berbagai keuntungan, seperti halnya pemberdayaan perempuan, dan penanggulangan masalah lingkungan akan menampakkan hasilnya jika disertai dukungan lingkungan sosial budaya yang kondusif.
Di lain pihak, pengaruh buruk keaksaraan dapat berkembang bergantung pada pemanfaatan keaksaraan dibanding hakikat keaksaraan itu sendiri – manfaat positif pun sepenuhnya bergantung pada media bagaimana keaksaraan dibutuhkan dan dilakukan. Beberapa diantaranya dapat cukup mengesankan. Misalnya, tuntutan keaksaraan dalam bahasa tulisan menyebabkan dibatasinya bahasa lisan. Program keaksaraan dan media tertulis lainnya dapat menjadi wahana agar setiap orang terlibat tanpa ragu dalam percaturan sistem pandangan politik tertentu.
Beberapa pertimbangan tersendiri diperlukan dalam mengkaji beberapa butir laporan di bawah ini. Secara sistematis, bukti manfaat keaksaraan untuk alasan tertentu tidak dapat dengan gampang ditampilkan.
• Kebanyakan penelitian keaksaraan menyatukannya dengan kegiatan belajar di sekolah dan kegiatan keaksaraan orang dewasa. Pada umumnya, ditemukan ‘kecenderungan untuk menyama-ratakan pengertian sekolah, pendidikan, keaksaraan dan pengetahuan.
• Kurang sekali penelitian yang ditujukan kepada program keaksaraan orang dewasa (sebagai padanan pendidikan formal) termasuk kajian yang memperhatikan masalah wanita. Sehingga muncul kesan keaksaraan orang dewasa dianggap tidak penting dibandingkan dengan hal yang sama bagi anak-anak di pendidikan formal.
• Penelitian juga banyak dilakukan terhadap pengaruh keaksaraan secara perorangan: jarang dijumpai penelitian yang mengkaji dampak keaksaraan untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan kancah international.
• Beberapa kasus manfaat keaksaraan, misalnya bagi kebudayaan, masih sulit untuk dilakukan pengukurannya.
• Keaksaraan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan masih belum konsisten dan data yang dianggap berkaitan masih dirasakan mengambang.
Manfaat pendidikan secara umum yang pada saat sama menggarisbawahi manfaat keaksaraan bagi orang dewasa. Keterbatasan bukti pendukung hasil belajar pengetahuan program keaksaraan orang dewasa menjadikan hasil belajar pendidikan ‘sekolah’ kerap dijadikan acuan. Kemampuan kognisi yang dapat diukur memang telah digunakan atau setidaknya dilakukan pengukuran berapa lama suatu pengaruh program masih bisa dirasakan. Hasil dari kedua pengukuran tersebut merupakan prioritas utama penelitian keaksaraan selama ini.
Perlu dijadikan catatan pula, program keaksaraan dewasa kini dapat menciptakan lebih banyak hasil bermuatan khusus, katakan saja penumbuhan kesadaran politik, pemberdayaan, refleksi kritis dan gerakan massa yang tidak bisa dikelompokkan sebagai proses pendidikan ‘sekolah’ formal. Dalam hal ini, jelas keuntungan dalam mengikuti program keaksaraan orang dewasa meliputi proses menimba pengalaman positif dan keterlibatan dalam ruang kelompok masyarakat keaksaraan5. Hal yang kurang mendapat porsi perhatian adalah manfaat pada dimensi pengembangan kapasitas diri, termasuk keterlibatan sosial, kesertaan sosial dan manfaat sosial lainnya.
Sehingga tanpa diragukan lagi dapat diakui seandainya manfaat keaksaraan mencakup diri pribadi, politik, budaya, sosial dan ekonomi, termasuk lingkungan.
Dua penelitian menyatakan bahwa manfaat keaksaraan terhadap pertumbuhan ekonomi bergantung pada tahapan pencapaian derajat keaksaraan. Azariadis dan Drazen (IBRD,2000) menemukan pengaruh ‘berangkai’: negara-negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang menyakinkan sebagai dampak kebijakan alih teknologi, berhasil mencapai angka keaksaraan lebih awal sekurang-kurangnya 40 %, sebagai temuan umum penelitian modernisasi perekonomian era tahun 60-an. Sachs dan Warner (IBRD,2000) memperlihatkan secara statistik hubungan kurva S pengaruh maksimum dimana derajat keaksaraan mencapai tingkat tertinggi maupun sebaliknya. Hasilnya, perubahan di tingkat tertinggi dan terendah sama sekali tidak memberikan dampak pertumbuhan ekonomi, sedangkan pada tingkat rata-rata memberikan dampak berarti di sejumlah negara berkembang.
Sekalipun terdapat bukti keterkaitan keaksaraan dan pertumbuhan ekonomi, mekanisme keduanya belum bisa dijelaskan lebih lanjut. Belakangan sumbangan pendidikan terhadap efisiensi ekonomi justeru terletak pada hal mendasar selama proses pertumbuhan itu berlangsung, dimana teknologi baru dan tenaga ahli yang dihasilkan proses pendidikan saling bersinggungan. Mereka yang memiliki kesempatan banyak memperoleh pengetahuan, adalah mereka yang dapat menimba keuntungan ekonomi lebih banyak.
Dengan demikian, derajat rerata keaksaraan suatu populasi merupakan indikator sesungguhnya pertumbuhan bukan dengan melihat persentase populasi dengan derajat keaksaraan paling tinggi. Dengan kata lain, sebuah negara yang menonjolkan upaya penguatan kemampuan keaksaraan masyarakatnya akan berhasil guna dalam menumbuhkan ekonomi dan kesejahteraan dibanding dengan mengatasi kesenjangan antara kelompok berkemampuan aksara tinggi dengan kelompok yang memiliki kemampuan rendah.
3. Nilai Tambah Investasi Keaksaraan (Literacy)
Sampai hari ini masih jadi bahan perdebatan, berapa besar keuntungan bisa diperoleh dari pembiayaan pendidikan dasar bagi orang dewasa dibandingkan dengan pembiayaan sekolah formal. Di beberapa negara, biaya pendidikan dasar bagi orang dewasa setahun dianggarkan sebesar pengeluaran pendidikan dasar kelas 3 dan 4 (UNESCO, 2006) Dengan begitu, melihat biaya relatif yang dikeluarkan, pendidikan dasar bagi dewasa sangat efektif. Hal ini, jika dibandingkan dengan tingkat pencapaian pengetahuan program keaksaraan dibandingkan dengan hasil pengetahuan yang diperoleh murid kelas 4 (UNESCO, 2000)
Telaah terhadap empat proyek keaksaraan di tiga negara (Bangladesh, Ghana dan Senegal) antara 1997 dan 2002 menyebutkan biaya per warga belajar hingga menyelesaikan program mencapai kisaran 13 % sampai 33 % biaya yang dikeluarkan seorang murid kelas empat sekolah dasar. Dalam kenyataan, masih dijumpai murid sekolah yang menyelesaikan pendidikan dasar keaksaraan lebih dari empat tahun, sehingga anggaran bisa bertambah. Hal yang patut dicatat, kenyataan tersebut hampir sama dibandingkan dengan biaya relatif yang diusulkan tiga puluh tahun lalu selama dicanangkan ‘Experimental World Literacy Programme’ (UNESCO, 2000) di tujuh dari delapan negara yang diujicoba, keaksaraan lebih ringan di ongkos dilihat dari warga belajar dewasa yang berhasil menyelesaikan program dengan penghematan berkisar 85 % hingga 2 %; sedangkan di satu negara yang diujicoba pendidikan dasar sekolah justeru lebih murah.
Perbandingan keuntungan relatif biaya pendidikan dasar dengan pendidikan lain sering menjadi topik hangat belakangan ini. Bahkan sering keuntungan atas biaya pendidikan sering dimunculkan lebih besar. Tidak sedikit pula, kajian yang menunjukkan pendidikan terhadap tingkat penghasilan seseorang tidak diragukan berdampak positif dan berpengaruh besar dibandingkan dengan komponen lain. Satu proyek yang jarang dilakukan untuk mengukur hasil program keaksaraan dewasa telah didanai Bank Dunia di tiga negara. Program keaksaraan fungsional di Ghana tahun 1999 menemukan besaran manfaat 43 % bagi wanita, 24% dirasakan laki-laki, manfaat sosial masing-masing mencapai 18% dan 14%; keuntungan diukur dari pencaharian yang berbeda. Sedangkan progam serupa di Indonesia, memberi keuntungan sekitar 25% dibandingkan pendidikan dasar di sekolah 22%, kasusnya diukur berdasarkan tingkat pendapatan perorangan dibandingkan dengan ongkos pendidikan yang dikeluarkan. Program di Bangladesh menyebutkan rata-rata keuntungan mencapai 37%. Meski demikian, perkiraan semua ini memerlukan konfirmasi lanjutan, pertama, investasi selamanya bersifat produktif, kedua, materi apa yang diperoleh msayarakat tidak mampu dari program keaksaraan yang membantu mereka memperoleh penghasilan dan beranjak dari kemiskinan. Kajian lebih dalam dimunculkan dari kajian mengenai dampak kesertaan program keaksaraan dewasa terhadap pengeluaran rumah tangga di Ghana. Tidak ada perbedaan bagi keluarga yang salah seorang anggotanya ikut kegiatan keaksaraan maupun pendidikan formal. Justeru, keluarga yang tidak satu pun berpendidikan formal, perbedaan sangat dirasakan mencolok: mereka yang memiliki anggota keluarga mengikuti program keaksaraan membelanjakan 57% dibanding mereka yang tidak memiliki anggota sebgai peserta program, dengan memperhatikan semua variabel yang berkaitan (IBRD,2000).
Di Ghana secara umum, hanya keluarga yang berpendidikan yang memerlukan peningkatan pendapatan (UNESCO,2006) Bukti yang ditemukan lebih lanjut memperlihatkan, bahwa manfaat pengeluaran program keaksaraan dewasa umumnya dapat dibandingkan satu sama lain, termasuk diantaranya dengan pengeluaran dalam pendidikan dasar. Dalam kenyataan sehari-hari, ‘opportunity cost’ seorang anak belajar di sekolah lebih rendah dibandingkan dengan seorang dewasa mengikuti program keaksaraan. Yang pasti, keuntungan belajar keaksaraan akan sangat dirasakan oleh orang dewasa yang masih dan terus bekerja.

G. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sebagai bakal People Center
Penyelenggaraan education center memerlukan prasayarat pokok berupa ketetapan hati segenap stake holder baik pemerintah, maupun masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembangunan. Pelaksanaan pembangunan tidak sekedar menuntut kemampuan masayarakat ikut serta selama proses pembangunan, melainkan juga turut mengambil sikap dalam mencegah dan memperbaiki ekses pembangunan seperti kerusakan lingkungan, kerawanan sosial akibat perubahan dan lain lain.
Penempatan masyarakat sebagai pelaku pembangunan harus disertai dengan unjuk pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mumpuni dalam merencanakan, melaksanakan dan melanggengkan proses dan hasil pembangunan. Begitu pula, penyediaan akses ‘education center’ harus memperhatikan parameter yang ditunjukkan oleh penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat.
Keaksaraan berdimensi lingkungan sebagai ‘software’ pada ‘education center’ merupakan bagian dari hak seseorang dan memberikan banyak manfaat, baik diperoleh melalui sekolah atau program keaksaraan dewasa sejenis. Pendidikan orang dewasa menciptakan beragam keuntungan, terutama dalam membangun kepercayaan dan pemberdayaan diri setelah seseorang tidak lagi sekolah. Ternyata, hal yang menggembirakan bahwa penyelenggaraan pendidikan orang dewasa saat ini lebih efektif dibanding penyelenggaraan pendidikan sekolah formal. Pertanyaan penting selanjutnya adalah mengapa anggaran pengeluaran pendidikan orang dewasa selalu mendapat porsi yang kurang semestinya.
Permasalahan lingkungan yang bersumber dari kesadaran dan pemahaman masyarakat tidak hanya merupakan porsi perhatian pendidikan sekolah sebagai wakil dari jalur pendidikan formal.
Bahkan ternyata, pendidikan non formal pun berdampak besar bagi peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan. Melalui pendidikan non formal inilah, keaksaraan dapat memuat masalah lingkungan sebagai bahan ajar, selain masalah sosial, ekonomi dan politik. Bahkan melalui pendekatan keaksaraan lanjutan yang dikemas dalam wadah ‘people center’, dapat diperoleh berbagai manfaat termasuk dalam masalah lingkungan.
Praktek dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dapat menjadi bahan belajar keaksaraan seperti penanganan sampah rumah tangga, pelestarian lingkungan dan tentu saja upaya mencegah kerusakan lingkungan. Melalui bahan belajar berbasis lingkungan ini, masyarakat dapat diajak memahami potensi dan peluang pemecahan masalah yang dpat dilakukan sendiri. Memang tidak mudah mengatasi masalah lingkungan, tapi memang harus dilakukan melalui jalan panjang dengan membangun kesadaran baru. Unutk itu peran dan fungsi people center dapat menjadi jembatan penghubung semua pihak yang berkepentingan dengan lingkungan.
Inisiasi awal berujud Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) selanjutnya dapat ditransformasikan menuju ‘people center’ dengan ujud Pusat Kegiatan berbasis Masyarakat (PKbM). Sebagai PKbM, muatan energi semakin kaya untuk memicu daya ungkit kapasitas dan modal sosial masyarakat.
Maka dalam hal memicu daya ungkit inilah pendidikan secara integral menempatkan diri dalam pembangunan secara nyata.
Bacaan Lebih Lanjut:
Ewald Jr., William R. (Ed.) (1968) Environment and Policy, The Next Fifty Years. Blomington and London: Indiana University Press.
Faming, Liang et.al. (Translator). (2004). Modernization in China: The Effects on Its People and Economic Development. Foreign Language Press: Beijing.
Kaufman, Roger A. (1972). Educational System Planning. 7th Printing. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat. (2007). Menko Kesra Resmikan Rumah Srikandi RW Siaga Mandiri. ONLINE. Tersedia pada: http://www.menkokesra.go.id/content/view/6154/39/. Diakses pada tanggal 11 Desember 2007.
Moegiadi (1992) Dilema Antara Perluasan Kesempatan Belajar dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis XXXVIII IKIP Bandung. Tanggal 20 Oktober 1992. Bandung: IKIP Bandung. Tidak Diterbitkan.
Nelson, Jack L. et.al. (2000). Critical Issues in Education. McGraw-Hill: Boston et.al.
Office of The Non-Formal Education Commission. (2006). Non Formal Education Roadmap. Office of the Permanent Secretary Ministry of Education of Kingdom of Thailand.
Organization for economic Co-Operation and Development. (2002). Education Policy Analysis. OECD
Reid, David (1995). Sustainable Development. Earthscan: London.
Shane, Harold G. (1984) Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, diterjemahkan oleh M. Ansyar. Jakarta: Pustekkom Dikbud dan Rajawali.
Tempo Interaktif (2007). Menteri Aburizal Resmikan Rumah Srikandi. ONLINE. Tersedia pada: http://www.tempointeraktif.com/hg/ jakarta/2007/11/15/brk,20071115-111659,id.html. Diakses pada tanggal 11 Desember 2007.
The International Bank for Reconstruction and Development and World Bank (2000) Local Dynamics in an Era of Globalization. New York: Oxford.
Tjokroamidjojo, Bintoro dan A.R. Mustopadidjaja. (1984) Teori dan Strategi Pembangunan Nasional. Cetakan keempat. Jakarta: Gunung Agung.
UNESCO. (1999). Manual for the Implementation of Community Learning Center. Bangkok: UNESCO.
UNESCO Institute For Statistic. (2002). Financing Education – Investment and Returns. Organization for economic Co-Operation and Development.
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2005) Literacy for Life: EFA Monitoring Report 2006. Paris: UNESCO Publishing.
--------------- (2006) EFA Mid-Decade Assessment: Meeting Report 7th Annual EFA Coordinators Meeting/ EFA Mid-Decade Assessment Planning Meeting. Bangkok: UNESCO